SEKILAS INFO
: - Jumat, 04-12-2020
  • 6 bulan yang lalu / Kami segenap keluarga besar SMAN 1 TEMPEH mengucapkan Selamat hari raya idul fitri 1441 Hijriah. Minal aidzin wal faidzin mohon maaf lahir dan bathin
  • 8 bulan yang lalu / Mari bersama kita lawan virus Covid 19 dengan menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar. Hindari ke tempat keramaian, cuci tangan secara berkala jika dari luar rumah, terapkan social distancing untuk sementara waktu, tidak keluar dari rumah jika tidak terlalu penting, dan selalu patuhi himbauan pemerintah
  • 8 bulan yang lalu / Berdasarkan surat edaran  kepala dinas pendidikan  cabang jember – lumajang, aktifitas belajar di rumah diperpanjang hingga 5 april 2020.

2.2 Kajian Kontroversial Komunisme Di Era Global
2.2.1 Marxisme dalam Kajian Pemikiran
Marxisme adalah sebuah bentuk pemikiran Karl Marx yang juga diracik oleh Frederick Engels dalam suatu filsafat materialism. Pemikiran Marxisme ini nantinya akan digerakkan ke arah politik revolusioner. Marxisme dipersepsikan pengikutnya sebagai ajaran resmi partai komunis. Bahkan pada masa lenin seluruh hubungan antar negara dan pengikutnya bertitik tolak pada Marxisme-Leninisme. Semenjak saat itu Marxisme-Leninisme menjadi sebuah ideology untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas (Kusumandaru, 2004 : 88).
Namun sebenarnya Marxisme sejak kematian Marx telah mengalami perpecahan. Perpecahan itu ditunjukkan oleh kubu Kautsky yang disebut ortodoks dan Eduard Bernstein yang dikenal revionisme. Perpecahan inilah yang dikaitkan dengan cikal bakal kehancuran Uni Sovyet dimasa yang akan datang. Bernstein beranggapan bahwa untuk mencapai jalan revolusioner perjuangan kelas merupakan suatu keniscayaan. Baginya perkembangan masyarakat memerlukan politik reformistik dengan melihat kondisi objektif masyarakat. Melalui jalan demikian, tindakan revoluioner dan radikal melalui kekerasan fisik dapat dihindarkan.
Pada dasarnya Marx sendiri tidak pernah menginginkan suatu haluan tunggal yang harus diikuti oleh pergerakan sosialis. Bahkan Marx beranggapan sosialis dapat dicapai dengan cara-cara damai dan menolak kemungkin terjadinya kekerasan. Pertimbangan ini muncul sebab solidaritas kaum buruh yang tergabung dalam Internasionale II semakin rapuh dan cenderung berorientasi pada perpecahan fisik.
Namun disisi lain, Karl Kautsky beranggapan bahwa Bernstein telah menghianati perjuangan dan menyimpang dari Marxisme. Baginya salah satu cara mencapai sosialisme adalah melalui jalan revolusi. Nampaknya pemikiran Karl Kautsky ini merupakan sebuah dilemma politis yang dihadapinya sebagai seorang aktivis dan tokoh politik. Dalam artian bahwa konsep Marxisme yang siap pakai merupakan artikulasi individu ddalam melaksanakan misi dan program politiknya.
Kritik terhadap lenin juga diluncurkan oleh tokoh pemikir lain yakni Rosa Luxemburg. Ia adalah salah satu tokoh pendiri dictator proletariat yang akan menjadi cikal bakal partai komunis. Luxemburg menyatakan bahwa revolusi terjadi karena spontanitas massa. Luxemburg menyangka bahwa Lenin telah merusiakan pemikiran Marx dan Engels sehingga berorientasi pada kondisi objektif Rusia. Marxisme-Leninisme itulah yang kelak kita kenal sebagai komunisme. Atau dengan kata lain Marxisme telah diadaptasikan dengan kondisi Rusia menjadi ideology komunis.
Peletakan Marxisme-Leninisme sebagai ideology dogmatic bertentangan dengan Marxisme yang anti terhadap segala bentuk ideology. Kaum komunis tidak pernah berhentik dalam melakukan maneuver politik dan aktivitas revolusioner. Keberhasilan dan kegagalan dianggap sebagai pengembangan komunisme selanjutnya. Walaupun gerakan Marxisme ini pada akhirnya akan menjungkirbalikkan pada ajaran Marxisme secara murni. Seperti yang dialkukan Stalin dalam mencapai ambisi politik dan ideologis dianggap sebagai lembar hitam Marxisme dan menodai perjuangan revolusioner Marxisme. Sebagai bentuk krtitik dan meluruskan Marxisme, para pengikutnya menggali kembali perjuangan emansipatoris, kritisme, dan humanism yang tertuang dalam tulisan Marx muda. Sejak saat itulah lahir gerakan Neo-Marxisme yang dipelopori oleh filsuf dari Madzhab Frankfrut. Kelompok ini menamakan teori dan analisa perkembangan masyarakat yang mereka geluti sebagai metode kritis (Nazsis, 2014 : 247).
Metode Kritis yang saat ini berkembang di seluruh dunia saat ini menarik para pemikir dan ilmuan terutama dari kalangan akademisi. Mereka ingin membangun kembali Marxisme, walaupun dalam kenyataan tulisan dan pemikirannya semakin jauh dari Marxisme bahkan seringkali bertolak belakang dengan Marxisme itu sendiri. Tulisan Marx diinterupsi secara baru dan bebas. Karya Marx ditafsirkan lebih lanjut oleh pengikutnya dan lahirlah kontroversi berlanjut dan abadi baik dalam Marxisme maupun Komunisme.orang-orang kritis atau Neo-Marxis terus berupaya memperkaya Marxisme dengan perangkat disiplin ilmu lain (Nazsis, 2014 : 248). Neo Marxis memasukkan cabang ilmu bantu seperti psikologi, etika, eksistensialisme dan sebagainya yang bertolak belakang dengan pemikiran Marx. Melaui gerakan ini, ide dan gagasan Marx dibongkar dan diberi interpretasi baru. Tradisi Madzhab Frankfrut ini terus berkembang. Basis kekuatannya berada pada pemikiran Radikal Marx yang dianggap mampu memperbaiki tatanan kehidupan manusia modern dewasa ini.
2.2.2 Marxisme dalam Gerakan Politik
Marxisme dalam dirinya bersifat multidimensi yang berkaitan antar unit pendukungnya dan unit lain. Artinya, kehancuran sistem politik, ideology, dan sistem pemerintahan bukan berarti suatu keniscayaan kehancuran Marxisme. Orientasi Marxisme dalam gerakan politik dan pemikiran ideologis akan selau siap bertransformasikan diri.
Leon Trotsky menegaskan bahwa masalah keterbelakangan Rusia di bidang Industry justru merupakan keuntungan revolusi bukan sebuah kekurangan. Kelemahan kaum borjuais di rusia, maka kaum proletar yang diarahkan untuk mempelopori revolusi borjouis di dunia barat. Lenin berhasil mengkawinkan demokrasi borjoius dan social proletariat. Kominform sebagai alat politik luar negeri Uni Sovyet, dijadikan wadah perjuangan revoluioner untuk mengacaukan Eropa Barat. Langkah ini membuat Uni Sovyet leluasa bergerak kearah timur. Untuk mencapai tujuannya itu, Stalin menggunakan partai komunis Italia dan Prancis. Bakan pertentangan Stalin dan Tito (presiden Yugoslavia) telah menimbulakn kecurigaan terhadap maksud Tito menciptakan kekuatan di Eropa Tenggara. Melalui Komintern, Yugoslavia harus dihancurkan. Namun tampaknya Tito tidak gentar menghadapi Stalin (Nazsis, 2014 : 249).
Marxisme dalam gerak politik diartikan kaku, tertutup, bahkan cenderung doktriner. Akibatnya Marxisme menjadi momok yang menaktutkan bagi sosialis maupun komunis itu sendiri. Stalin nampaknya lebih bergerak menjadi suatu yang bersifat totaliter. Selain dengan Yugoslavia, Stalin pernah bersitegang dengan RRC sehingga mengambil keputusan untuk mencari jalan sendiri. Inilah penanda kehancuran komunisme secara sistemik dalam gerak politik.
Komintern dan Kominform adalah alat untuk mengendalikan kekuasaan politik di tengah partai komunis. Yugoslavia menolak untuk dikuasai dan memilih jalan sendiri. ALbani bergerak kearah RRC, Rumania lebih memilih netral, bahkan negara-negara di eropa timur seperti polandia, hongaria, jerman timur dan cekoslavakia lebih memilih liberalism dan politik otonomi. Keluarnya (diusir)Yugoslavia dari komintern telah emmbuka jalan baru sosialime sendiri yang dikenal dengan Titoisme. RRC bereaksi lebih keras dengan menuduh Uni Sovyet sebagai negara hegemonis dan ekspansionis. RRC bahkan mengklaim dirinya sebagai pewaris Marxisme-Leninisme yang murni. Ide Komunis Nasional, Sosialisme dengan wajah manusiawi menjadi opsi partai sosialis dan komunis Eropa Barat dan otonomi terbatas bagi sosialisme nasional, sejak saat itu menjadi suatu keniscayaan. Muncul ungkapan ‘banyak jalan menuju sosialime’ merupakan pergeseran konsepsi politik ideologis yang tidak dapat dipungkiri. RRC bergerak sendiri kea rah Asia, Afrika, dan Amerika Latin. RRC menempuh jalan sosialisme ala cina (Nazsis, 2014 : 249).
Berdasarkan pemahaman yang menyeluruh baik pemikiran dan gerakan politik, fenomena di penghujung abad 21 dapat dikatakan sebagai sebuah konsepsi yang sudah sejak lama dikandung dalam Marxisme itu sendiri. Kehancuran sistemis negara komunis bukan berarti penggambaran kehancuran bangunan menyeluruh dari Marxisme. Sejarah telah membuktikan bahwa suatu filsafat terus mengadakan terobosan-terobosan baru. Mendobrak jalan buntu sambil tetap mempertahankan watak revoluioner menuju transformasi dialektika, logika dan ilmiah.
2.2.3 Multimuka Marxisme
Berdasar fakta sejarah yang diungkapkan, Marxisme bereksistensi proses aktualisasi diri, tampak bahwa Marxisme tidak mengenal kata menyerah apalagi mati. Berdasarkan rekaman sejarah, Marxisme dijabarkan dalam bentuk partai dan pemerintahan yang komunis serta mampu mengadakan penyesuaian dalam bentuk multimuka Marxisme (Nazsis, 2014 : 252). Multimuka merujuk pada semacam monster menurut mitologi yunani yang jika ditebas akan senantiasa tumbuh kembali.
Multimuka mengambil bentuk upaya aktualisasi Marxisme dengan mempertahankan analisis Marx dan engels. Multimuka Marxisme mengambil wujud sintesa perjalanan sejarah manusia yang berpatokan pada premis, doktrin dan prinsip marxisme, pengalaman, kegagahan dan pemikiran yang idologis. Gerakan pemikiran dan politis idologis sebagai suatu alternative merupakan dampak yang tak terelakkan dari industrialisasi merupakan stimulant dan factor perumusan kemasan Marxisme baru. Perumusan itu menjadi sumber inspirasi gerakan politik dan perjuangan ideology radikal dan revolusioner. Nampaknya permasalahan yang muncul adalah bagaimana mendeskripsikan wujud dari multimuka Marxisme. Tulisan ini tidak berupaya memberikan wujud nyata Marxisme yang menampilkan multimuka Marxisme. Namun lebih kepada penjabaran sejarah berdasarkan potensi nyata dari gerakan politik yang pernah ada bahwa perjuangan revolusioner masa lampau bukan tidak mungkin akan menginspirasi pengikutnya menjadi suatu bentuk sosok multimuka-Marxis.
Peluncuran multimuka-Marxis yang paling canggih saat ini adalah pembentukan sudut pandang dikalangan intelektual dan masyarakat. Dikalangan intelektual alienasi yang melanda masyarakat industry dan kondisi mayarakat yang ditandai kemajuan teknologi akibat modernisasi bukan mustahil kaum Marxis akan membentuk suatu perjuangan komunis gaya baru (Nazsis, 2014 : 253).
Sasaran sudut pandang komunis gaya baru dapat berupa rekayasa pemikiran. Gerakan komunis baru tidak lagi dogmatis dan doktriner. Bisa saja gerakan ini mengambil gaya fabianisme yang menyusupkan ide-ide melalui tokoh-tokoh masyarakat, organisasi, birokrasi tanpa bermaksud mengadakan perubahan revolusioner terhadap sistem dan tatanan masyarakat yang ada. Potensi komunis untuk bangkit kembali dalam muka baru terletak pada watak revolusionernya. Watak ini dengan mudah mempengaruhi generasi muda terutama kaum intelektual. Kiranya hal ini dapat dijadikan sebagai praanggapan bagi lahirnya format baru Marxisme. Sebab wacana yang paling mungkin untuk menghapus masyarakat tanpa kelas di era globalisasi saat ini menekankan pada kesadaran manusia sebagai syarat utama. Kesadaran manusia menciptakan dunia realitas.
Secara ideologis, Marxisme-Leninisme tetap merupakan potensi untuk mengadakan lompatan dialektis menuju upaya mempertahankan kelangsungan hidupnya dalam bentuk multimuka Marxis. Marxisme tidak akan pernah mati, akan tetapi senantiasa memiliki potensi untuk diaktualisasi. Dengan kata lain, kematian komunisme justru merupakan masa subur bagi penetasan kembali telur multimuka Marxisme. Perlu diingat bahwa watak dan warisan Marxisme adalah gerakan politik revolusioner yang tidak pernah mengenal kata berhenti atau menyerah (Nazsis, 2014 : 254).
Jikalau komunisme dikatakan mati, maka dewasa ini merupakan masa inkubasi dalam penciptaan benih baru Multimuka Marxisme. Antisipasi lahirnya multimuka Marxisme dapat dipelajari melalui watak dasar Marxisme. Marx dan engel menyebut sosialisme mereka sebagai ilmiah yang membedakan dengan pakar sosialis utopis. Tradisi ilmu, pemikiran rasional yang merupakan cirri dunia perguruan tinggi merupakan lahan potensi reorientasi dan reformulasi kaum komunis dan simpatisannya.
Pandangan masayarakat dunia mengenai hancurnya komunisme yang ditandai dengan bubarnya uni soviet membuka peluang atau kondisi yang memungkinkan bagi pemikir Marxis. Sebab kaum Marxis memiliki tenggang waktu, masa inkubasi untuk merenung ulang premis Marx tentnag masyarakat tanpa kelas. Prinsip Marx ini merupakan rujukan bagi kemungkinan interpretasi baru dalam memahami masyarakat industry di abad 21. Kehancuran Uni Sovyet memacu kaum Marxis untuk memberikan suatu interpretasi baru bagi Marxisme. Interpretasi tersebut dimaksudkan untuk memperoleh pijakan bagi kemungkinan penciptaan suatu teori Marxis yang sesuai dengan tuntutan dan kondisi masyarakat globalisasi dewasa ini. Sebab Marxisme menempel pada isu actual dan berbagai kecenderungan dunia serta arus pemikiran yang meliputi seluruh aspek kehidupan manusia termasuk religiusitas.
Hancurnya tembok berlin yang menandai akhir dari perang dingin melahirkan tragedy kemanusiaan yang mengenaskan. Dunia dilanda pertentangan etnisitas yang melanda negara-negara komunis. Kondisi ini menantang bagi para Marxis untuk merenungkan ulang visi Marxisme. Kondisi yang menyatakan bahwa komunisme tidak relevan lagi untuk dibicarakan dan komunisme sudah mati perlu untuk dikaji ulang karena marxisme dipandu dalam mekanisme pertahanan diri yang tidak akan pernah mati dalam wujud Multimuka Marxisme. Multimuka Marxisme dapat lebih leluasa dalam kondisi dan perkembangan dunia dewasa ini dengan permasalahan kemanusiaan, alienasi, ketimpangan, ketidak adilan dan berbagai bentuk masalah pada masyarakat moden yang kesemuanya merupakan lahan subur Multimuka Marxisme.

Pengumuman Terbaru

PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU TAHUN AJARAN 2020-2021

Himbauan Sekolah Kepada Kelas 12:

Info Kelulusan 2020

Maps Sekolah